Resensi Novel Laut Bercerita: Fiksi Sejarah tentang Aktivisme dan Kehilangan

Laut Bercerita: Fiksi Sejarah tentang Aktivisme dan Kehilangan

Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori adalah salah satu karya sastra Indonesia yang sarat makna dan layak disebut sebagai fiksi sejarah terbaik. Terbit pada 2017, novel setebal 394 halaman ini menggambarkan persahabatan, cinta, keluarga, dan kehilangan dengan latar pergolakan politik era Orde Baru menjelang reformasi 1998.

Leila, yang juga seorang jurnalis, menulis novel ini berdasarkan riset panjang, termasuk wawancara dengan korban penculikan dan kerabat aktivis yang hilang. Hasilnya, pembaca seakan diajak kembali ke masa penuh ketegangan ketika suara kritis dibungkam, dan sebagian aktivis tak pernah kembali.

Dua Bagian, Dua Perspektif

Kisah dalam Laut Bercerita dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dituturkan dari sudut pandang Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada yang terlibat dalam gerakan aktivis. Ia dan rekan-rekannya berjuang lewat diskusi, tulisan, hingga aksi nyata melawan rezim yang menindas.

Namun perjuangan itu berujung tragis. Laut dan teman-temannya diculik, ditahan, hingga disiksa dengan cara yang tidak manusiawi. Hilangnya mereka menjadi luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi sejarah bangsa.

Bagian kedua diceritakan dari sudut pandang Asmara Jati, adik Laut. Dua tahun setelah kakaknya hilang, Asmara berusaha menjaga ingatan tentang Laut sekaligus mendirikan lembaga yang memperjuangkan keadilan bagi korban penghilangan paksa. Dari sudut pandang ini, pembaca merasakan getirnya kehilangan yang tak pernah menemukan jawaban.

Keunggulan Novel

Novel Laut Bercerita memiliki kekuatan pada riset yang mendalam, detail suasana, serta karakter yang terasa nyata. Leila berhasil menghadirkan gambaran hidup tentang penyiksaan, perjuangan mahasiswa, hingga perasaan keluarga yang ditinggalkan. Meski bergenre fiksi, banyak tokoh dan peristiwa yang mencerminkan kenyataan sejarah 1998.

Selain nilai historis, novel ini juga mengandung nilai edukatif. Pembaca diajak untuk memahami sejarah kelam bangsa, pentingnya hak asasi manusia, dan betapa mahalnya harga kebebasan berpendapat.

Kekurangan dan Tantangan

Alur maju-mundur yang digunakan mungkin terasa membingungkan bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan gaya campuran. Namun, justru teknik ini memberi kedalaman narasi, menegaskan betapa masa lalu dan masa kini saling terkait.

Amanat yang Tersisa

Laut Bercerita bukan hanya sekadar novel, tetapi juga pengingat agar kita tidak melupakan sejarah kelam negeri ini. Melalui kisah fiksi yang dekat dengan kenyataan, Leila mengajak pembaca merenungkan perjuangan para aktivis dan pentingnya menghargai demokrasi.

Novel ini layak dibaca siapa saja yang ingin memahami bagaimana sejarah, kemanusiaan, dan perjuangan politik membentuk wajah Indonesia hari ini.

Baca juga: Sorotan Media Asing: Kunjungan Prabowo ke China di Tengah Krisis Unjuk Rasa